Pertemuan ke-10 Psikologi Umum II: Psikologi Sosial
Psikologi sosial merupakan studi ilmiah tentang bagaimana pikiran, perasaan, dan prilaku seseorang dipengaruhi dan terpengaruhi oleh kelompok sosial; lingkup psikologi dimana para psikolog memfokuskan kajiannya tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain. Social influence (pengaruh sosial) merupakan proses ketika kehadiran nyata seseorang, baik secara langsung atau tidak, dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku individu. Contoh aplikatif pengaruh sosial:
- Kita melihat seseorang yang berbicara lemah lembut itu baik, maka kita akan belajar bicara lemah lembut.
- Kita melihat seseorang yang merokok itu keren, maka kita akan merokok.
Pengaruh sosial erat kaitannya dengan konformitas, yaitu mengubah perilaku agar seragam dengan perilaku orang yang lain ketika kita memiliki perilaku berbeda. Contoh aplikatif konformitas:
- Kita berada dalam kelompok gadis penyuka pink, sedangkan kita tertarik dengan warna monokrom, maka kita akan mencoba untuk menyukai warna pink.
- Kita suka Anime, sedangkan teman kita suka Kpop, maka kita akan mengikuti ketertarikkan teman kita agar tetap satu frekuensi.
Dalam eksperimen selanjutnya, Asch (1956) menemukan jika konformitas akan berkurang jika terdapat satu sekutu yang memberikan jawaban yang benar.
PERILAKU KELOMPOK
Pikiran kelompok (groupthink): jenis berpikir yang terjadi ketika orang-orang lebih mementingkan kekompakkan kelompok daripada menilai masalah fakta yang menjadi perhatian kelompok tersebut. Contoh groupthink:
1. Diadakannya suatu demokrasi untuk menentukan suatu keputusan.
2. Kepala negara mempertahankan negaranya dari invasi negara lain, untuk melindungi negaranya, meskipun penasehat negara mengatakan kalau itu adalah kesalahan fatal.
Bahaya dari groupthink => psikolog sosial menjelaskan salah satu contoh fenomena dari groupthink ini. Sebagai contoh, anggota kelompok mungkin memegang stereotip bahwa setiap orang yang berbeda pendapat dengan kelompok, pendapat mereka tidaklah sepenting kelompok tersebut. Mereka memberikan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan pendapat kelompok, dan mencegah mereka yang setuju ingin berbicara.
Karakteristik groupthink:
1. Kebal, merasa tidak akan gagal
2. Rasionalisasi
3. Kurang intropeksi
4. Stereotip
5. Tekanan
6. Menipu diri sendiri
7. Licik
Polarisasi grup: kecenderungan anggota untuk terlibat dalam diskusi kelompok untuk mengambil sedikit posisi dan saran yang lebih ekstrem dibandingkani individu yang belum berpartisipasi dalam kelompok. Contoh aplikatif: seseorang aktif dalam diskusi kelompoknya, dan seseorang yang mengambil penuh jalannya diskusi.
Fasilitas sosial: kecenderungan dari kehadiran orang lain untuk mendapatkan dampak positif dalam kinerja tugas mudah. Contoh aplikatif: kita lebih termotivasi menyelesaikan tugas jika ada yang menemani dan kita terpacu mengerjakan tugas jika melihat kemampuan oranglain.
Fasilitas sosial dapat mempengaruhi kesuksesan individu untuk bekerja dalam suatu kelompok. Pengaruh positif oranglain terhadap kinerja seseorang disebut fasilitas sosial, sedangkan pengaruh negatifnya disebut gangguan sosial (social impairment). Social impairment adalah kecenderungan kehadiran orang lain memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja dalam tugas sulit.
Suatu fenomena dimana seseorang dapat bekerja dengan baik ketika mengerjakan tugas sendiri, daripada bersama-sama dengan orang lain mengerjakan tugas yang sama disebut sebagai social loafing, yaitu kecenderungan seseorang untuk mengurangi usaha ketika bekerja dengan oranglain. Contoh aplikatif social loafing:
1. Ketika bekerja kelompok, salah satu temanmu menghilang dan lari dari tanggungjawabnya.
2. Dalam tim, ada yang mengerjakan lebih banyak tugas daripada rekan satu tim yang lain.
Kemudian terdapat deindividuation, yaitu berkurangnya identitas diri, pengendalian diri, dan rasa tanggungjawab seseorang dalam kelompok. Kurang lebih, deindividuasi hampir mirip dengan social loafing yaitu kurangnya effort/usaha seseorang dalam suatu kelompok.
Dalam proses marketing, produk dijual dengan prinsip consumer psychology, yaitu cabang psikologi yang mempelajari kebiasaan konsumen dalam marketplace. Contoh aplikatif consumer psychology:
1. Memakai warna-warna tertentu yang bisa menarik minat pembeli.
2. Penggunaan cirikhas tertentu bagi produk sehingga mudah diingat pembeli.
Compliance adalah perubahan suatu perilaku akibat permintaan seseorang. Contoh aplikatif compliance:
1. Kita terbiasa untuk menunduk ketika bertemu orang yang lebih tua karena didikkan orangtua yang meminta kita untuk seperti itu.
2. Kita menjaga ucapan kita karena guru kita meminta kita untuk menjaga ucapan.
Teknik compliance:
1. Foot in the door technique: ketika tetangga meminta kamu untuk menjaga rumahnya selama mereka pergi liburan, dan kamu menyetujuinya karena kita hanya diminta melihat rumahnya saja. Kemudian, tetangga kamu pergi liburan lagi dan meminta kamu untuk memberikan makan ikan mereka setiap sore. Permintaan kedua ini melibatkan waktu dan energi kamu, jika kamu memiliki compliance, maka kamu tetap memenuhi permintaan kedua.
Ketika compliance dengan permintaan kecil diikuti oleh permintaan besar, orang-orang cenderung untuk memenuhinya karena telah memenuhi permintaan kecil yang pertama, dan mereka berkeinginan untuk tetap konsisten. Permintaan kecil pertama berperan sebagai pembuka.
2. Door in the face technique: Permintaan besar datang lebih awal daripada permintaan kecil, sehingga permintaan cenderung ditolak. Kemudian diikuti oleh permintaan kecil kedua dan permintaan masuk akal sehingga mungkin dipenuhi. Contohnya jika tetangga kamu meminta kamu untuk merawat kucing mereka selama mereka pergi liburan, karena itu akan memakan waktu dan energi kamu, maka kamu menolaknya. Keesokkannya, tetangga kamu meminta kamu untuk hanya menyiram bunga kamu sekali pada hari Kamis ketika mereka pergi kerumah saudara mereka, maka kamu memenuhinya karena lebih masuk akal untuk dilakukan.
3. Lowball technique: Mendapatkan komitmen dari seseorang, kemudian mendapatkan kenaikkan biaya dari komitmen tersebut. Contoh aplikatifnya kita membuat kesepakatan dengan orang, namun menetapkan tarif tertentu. Contoh lainnya ketika kita ditawari untuk berlangganan wifi dengan harga promo dengan periode tertentu, setelah masa periode habis, kita terkejut biaya langganannya berbeda jauh dengan biaya saat promo.
Obedience : mengubah perilaku seseorang melalui perintah. Contoh aplikatif obedience (kepatuhan):
1. Ada sebuah aturan kita dilarang mencuri, maka kita akan menahan diri untuk tidak mencuri barang orang lain -> membentuk perilaku jujur.
2. Ada sebuah aturan untuk memakai helm, maka setiap berkendara kita akan memakai helm.
SOCIAL COGNITION
Kognisi sosial fokus pada pembentukkan dan pengaruh perilaku dan persepsi orang lain. Kognisi sosial adalah proses mental dimana orang menggunakan akal mereka untuk memahami dunia. Termasuk didalamnya attitude, yaitu kecenderungan seseorang untuk merespon positif atau negatif terhadap orang tertentu, objek, ide, dan atribusi. Model ABC dari attitude:
1. Affective: perasaan seseorang terhadap objek. Contohnya, seseorang merasa galau setelah mendengar musik sedih dan seseorang merasa senang ketika diberi hadiah.
2. Behavior: tindakkan yang dilakukan seseorang. Contohnya, seseorang merasa galau mendengar musik sedih tadi mengurangi intensitas mendengarkan musik sedihnya dan seseorang yang senang diberi hadiah tadi akan membuka hadiahnya dengan bangga.
3. Cognitive: sikap dimana seseorang berpikir tentang dirinya, objek atau situasi. Contohnya, karena dia merasa galau mendengar musik sedih sehingga dia berpikir musik rock lebih baik daripada musik sedih.
Pembentukkan attitude melalui:
1. Kontak langsung: kontak langsung dengan objek fokus sikap. Contohnya sering interaksi dengan orang suka bicara akan membentuk perilaku suka bicara, sering berada di lingkungan sunyi akan membentuk kepribadian pendiam.
2. Instruksi langsung: Instruksi langsung dari fokus sikap. Contohnya kita tidak merokok karena disuruh orangtua sebab merokok itu tidak sehat, kita tidak pacaran karena dilarang oleh orangtua.
3. Interaksi dengan orang lain: contohnya kita melihat teman kita merokok, kita mencobanya, kemudian kita jadi kecanduan merokok.
4. Observational learning: ketika seseorang dikelilingi oleh fokus sikap. Contohnya jika berada dalam keluarga yang takut anjing, maka kita juga akan takut anjing. Kemudian jika berada dalam lingkungan yang cepat panik jika melihat air surut, maka jika melihat air surut kita juga ikut panik.
Persuasi: proses dimana seseorang berusaha mengubah pandangan, pendapat orang lain melalui argumen dan penjelasan. Beberapa faktornya meliputi:
- Source: si komunikator
- Message : isi persuasi
- Target Audience: karakteristik orang yang akan dipersuasi.
- Medium: darimana orang mendapatkan persuasi.
Elaboration likelihood model: model persuasi menyatakan bahwa orang menguraikan pesan persuasif atau gagal menguraikannya, dan tindakkan di masa depan lebih dapat diprediksi daripada mereka yang tidak.
Central route processing: jenis pemrosesan informasi yang melibatkan perhatian terhadap konten pesan itu sendiri. Sama dengan control processing, ketika kita mmepunyai waktu untuk berpikir untuk mempertimbangkan keputusan. Contoh memikirkan menu buka puasa, memilih jurusan
Peripheral route processing: jenis pemrosesan informasi yang melibatkan faktor-faktor yang tidak ada dalam pesan, seperti faktor non konten. Sama dengan automatic control processing, tidak punya waktu untuk mempertimbangan keputusan.
Cognitive dissonance: perasaan tidak nyaman ketika perilaku seseorang tidak sesuai dengan apa yang diinginkanya. Contoh cognitive dissonance:
1. Kita merasa kita pintar, namun kita juga malas belajar.
2. Seseorang tetap bekerja, walaupun telah mengalami burnout terhadap pekerjaannya.
Impression formation: pembentukkan kesan kepada oranglain untuk pertama kalinya. Contohnya adanya hallo-effect.
Social categorization: kita mengkategorikan seseorang sesuai karakteristik yang telah kita alami pada pengalaman masa lalu, atau seperti stereotip. Contohnya kita melihat orang dengan rambut merah, seperti orang pemarah. Contohnya lagi kita lihat orang yang berasal dari keluarga dokter pasti pintar.
Implicit personality theories: beberapa asumsi tentang berbedanya jenis orang, kepribadian dan saling berhubungan, atau kategori kita meletakan seseorang atas kriteria tertentu, seperti judging dan labelling. Contoh: kita mengganggap orang cantik pasti baik, kita menganggap orang humoris pasti selalu bahagia.
Atribusi: proses menjelaskan perilaku sendiri dan perilaku orang lain. Teori atribusi berhubungan dengan bagaimana orang beratribusi.
Jika penyebab perilaku berasal dari sumber eksternal disebut sebagai penyebab situasional, contohnya seseorang terlambat karena macet parah, dan seseorang menjadi pendiam bisa saja karena kedinginan akibat basah kuyup.
Jika penyebab perilaku dari sumber internal disebut dispositional cause, contohnya seseorang terlambat karena emang dia pemalas, dan seseorang pendiam karena memang tidak mood atau kepribadiannya.
Bias terkenal dari atribusi adalah fundamental attribution error, yaitu kecenderungan ketika mengamati perilaku seseorang kita melebih-lebihkan pengaruh faktor internal saat menentukan perilaku dan meremehkan situasional. Contohnya mirip seperti dipositional cause.
SOCIAL INTERACTION: hubungan antarindividu secara kasual/intimate
1. Prejudice and Discrimination
Prejudice: sikap negatif/positif seseorang tentang anggota kelompok secara partikular
Discrimination: memperlakukan seseorang berbeda karena prasangka dari kelompok sosial.
Contoh aplikatif prejudice and discrimation:
- Kita menganggap orang dengan suku A itu keras (prejudice), sehingga kita memperlakukan suku A berbeda dari suku B (Diskriminasi).
- Kita menganggap orang dengan banyak tato sebagai orang jahat (prejudice), sehingga kita lebih takut ketika berhadapan dengan mereka.
Terdapat 2 kelompok:
- In group: kelompok sosial ketika kelompok mengidentifikasikan dirinya sebagai "kita", contohnya kita anak kelas A, kita mahasiswa psikologi.
- Outgroup: kelompok sosial diluar in group sehingga disebut "mereka", contohnya mereka anak kelas B, mereka mahasiswa biomedis.
2. Scapegoating: target untuk frustasional dan emosi negatif. Biasanya muncul pada outgroup, ada tekanan yang memperkuat konflik. Contohnya adanya provokator, muncul perang.
Social cognitive theory: merujuk pada proses kognitif untuk memahami dunia sosial.
Realistic conflict theory: teori yang menyatakan prejudice dan diskriminasi akan meningkat ketika kelompok terjadi konflik dengan sumber daya yang terbatas.
Social identity theory: teori dimana pembentukkan identitas orang tertentu dalam kelompok sosial dijelaskan oleh kategorisasi sosial, identitas sosial, dan perbandingan sosial.
Social identity: bagian konsep sosial termasuk pandangan seseorang sebagai salah satu anggota dari kategori tertentu.
Social comparison: perbandingan dengan oranglain untuk meningkatkan self esteem.
Stereotype Vulnerabillity: kesadaran orang dari stereotip terkait dengan perilaku kelompok sosial mereka, rawan ancaman stereotip dimana anggota kelompok stereotip cemas terhadap situasi dimanapun.
Self fulfilling prophecy: kecenderungan harapan seseorang untuk mempengaruhi perilaku seseorang untuk membuat harapan lebih mungkin terjadi.
OVERCOMING PREJUDICE
Equal status contact: kontak antara kelompok dimana kelompok memiliki status yang sama dengan keduanya kelompok yang memiliki kekuasaan diatas yang lain.
Jigsaw classroom: teknik edukasi dimana setiap individu diberikan bagian informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah, menyebabkan individu bekerja sama-sama untuk menyelesaikan masalah.
INTERPERSONAL ATTRACTION: menyukai atau memiliki keinginan untuk hubungan dengan oranglain. Faktor-faktornya:
a. Physcal Attractiveness: ketertarikkan karena fisik seseorang, contohnya kita suka seseorang karena dia cantik/ganteng.
b. Proximity: kedekatan secara fisik dengan orang lain, contohnya kita suka sama rekan kerja kita karena menghabiskan waktu bersama. Teori tentag kenapa proximity penting disebut mere exposure effect, yaitu semakin banyak seseorang mengalami sesuatu, maka mereka akan semakin menyukainya.
c. Similarity: suka sama orang karena punya kemiripan.
Reciprocity liking: kecenderungan kita untuk suka balik sama orang yang udah suka sama kita.
3 Komponen Cinta Sternberg:
a. Intimacy: kedekatan satu sama lain sehingga memiliki close emotional, secara physical dan psychological. ex. cuman pengen deket aja.
b. Passion: emosional dan seksual arousal seseorang ke orang lain. Contoh pegangan tangan, tatapan penuh cinta
c. Commitment: keputusan untuk membuat hubungan.
Sternberg Triangular Theory
Romantic Love: ketika merasa intimacy dan passion
Companionate Love: ketika merasa intimacy dan commitment, biasanya dalam pernikahan.
Consummate love: ketika merasa intimacy, passion, sekaligus commitment, bentuk cinta yang ideal.
Agression: terjadi ketika seseorang secara fisik atau verbal mencoba melukai orang lain sebagai bentuk frustasi. Contohnya seorang anak memukul temannya karena tidak suka dikerjai, dan seseorang membunuh oranglain karena merasa iri.
Prosocial Behavior: keinginan kita untuk menolong oranglain secara sukarela
Altruisme: menolong seseorang tanpa keinginan reward atau kepentingan pribadi. Contohnya ketika ada teman kita terjatuh, kita auto menolongnya.
Anjir panjang, tumben
BalasHapus