Selasa, 5 Oktober 2021
Pertemuan ke-6 Psikologi Umum I oleh Bu Mafaza, S.Psi., M.Sc.
Hola, amigos! ✌ Nah, kali ini aku bakal ngejelasin salah satu materi dari perkuliahan kami hari ini lagi nih... Penasaran nggak, kita bakal bahas apa? Cluenya, masih berkaitan dengan materi kita minggu lalu, kok. Hmm...tepat sekali! 100 deh buat kalian yang berhasil jawab dengan benar kalau kita akan membahas Rasionalisme pada blog kali ini!
*clap hand sound* 
Jadi......ada yang udah tau apa itu rasionalisme nggak, sebelumnya? Nah, bagi yang belum tau, rasionalisme itu adalah sebuah paham yang mengandalkan akal (pikiran) dalam memperoleh ilmu pengetahuannya loh! Berbeda dengan empirisme yang mengandalkan pengalaman data sensoris dalam memperoleh ilmu pengetahuan, rasionalisme justru memanfaatkan innate, akal, dan meyakini bahwa kita mempunyai kemampuan di dalam diri kita. Namun, bukan berarti juga kalau seorang rasionalis itu acuh tak acuh kepada data sensoris ya, guys! Para rasionalis juga mempercayai adanya data sensoris, namun, mereka tidak menjadikan sensory experience itu sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Menurut para rasionalis, pemikirannya menggunakan akal budi (rasio) secara ekslusif untuk menemukan kebenaran; pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Konsepnya, pikiran itu menambahkan sesuatu kedalam data sensoris daripada hanya menyimpannya dalam memori (pikiran pun ikut turun tangan dalam urusan data sensoris di dalam memori, loh).
Berbeda dengan materi sebelumnya, rasionalisme ini lebih menekankan "manusia adalah manusia". Dimana, dalam kehidupannya, manusia itu tidak diatur sepenuhnya oleh lingkungan; manusia berhak menentukan kehidupannya sendiri.
Menurut kaum rasionalis juga, sumber itu tidak dapat membentuk idea dan menjunjung morality.
Konsep pada rasionalisme ini sendiri mencakup:
1. Active Mind (informasi diolah oleh sistem sensoris dan kemudian memberi arti dari sensoris tersebut).
2. Reasons (alasan yang mendasari sebuah perilaku)
3.Deduction (mengingat data sensoris dan aturan pikiran, kemudian diambil kesimpulan tertentunya).
Jadiiiiii........karena dari tadi aku ngebandingin antara empiris dan rasionalisme terus nih ya, emang apa sih perbedaan antara empirisme dan rasionalisme itu? Nah! Jadi kaum empiris itu lebih menekankan pentingnya informasi sensoris, sedangkan kaum rasionalis menekankan pentingnya pikiran aktif yang mengubah data yang telah disediakan oleh indra. Lebih jelasnya, liat di tabel ini aja yah guys!
Siapa aja sih dibalik pemikiran Rasionalisme?
1. Baruch Spinoza (1632 M - 1677 M) : kata kunci dari pemikirannya yaitu "Tuhan atau Alam"; substansi tunggal ; tuhan, materi, dan pikiran merupakan satu entitas yang tidak bisa dipisahkan. Beberapa teori Spinoza: Nature of God, Mind-Body Relationship, Denial of Free Will, Self Preservation as The Master Motive, Emotions and Passions, dan Spinoza's Influence.
2. Nicholas de Malebranche (1638 M - 1715 M): Tuhan itu sebagai penengah interaksi antara pikiran dan tubuh; serta ide berasal dari Tuhan.
3. G. W. V. Leibniz (1646 M - 1716 M): kesempatan untuk menerapkan potensial innate; monadologi ; tidak dapat menciptakan idea namun ide dapat diaktualisasikan ; konsep pengaktualisasian diri dan threshold; persepsi sadar dan tidak sadar ; mind-body relationship ; dan Leibniz itu menyatakan ketidaksetujuannya dengan teori Locke "Tabula Rasa".
4. Thomas Reid (1710 - 1796) : memunculkan faculty of psychology ; innate ; common sense ; direct realism.
5. Immanuel Kant (1724 - 1804) : tidak menjelaskan proses pemikiran lebih dalam ; kategori dalam pemikiran (Kant tidak mengabaikan pentingnya data sensoris, namun, pikiran harus menambahkan sesuatu kepada data tersebut barulah data tersebut dapat diakui sebagai sebuah pengetahuan); dan penyebab dari pengalaman mental (perception of time, perception of space).
6. George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831) : melihat sesuatu secara keseluruhan (seperti prinsip Gestalt) ; dan keilmuan bukanlah sesuatu yang instan dimana ada sebuah value, thesis, anti-thesis, dan yang terakhir adalah sintesis (proses dialektik).
7. Johann Friedrich Herbart (1776 - 1841) : mematematikakan psikologi dengan secara mengekspresikan psikologi secara matematis yaitu melalui aktivitas pemikiran kita ; konsep psychic mechanics ; idea tidak akan terhapuskan melainkan diletakkan di bawah sadar ; psychology as science ; dan the apperceptive mass (melibatkan ide-ide kompatibel yang berkumpul dalam alam sadar dan membentuk sebuah grup).
Kemudian, kami juga membahas....
Educational Psychology!!!!
Gimana sih konsep atau jalannya dari Educational Psychology atau Psikologi Pendidikkan ini?
1. Mereview kembali materi yang telah dipelajari.
2. Menyiapkan murid untuk materi baru dengan memberikan overview dari apa yang akan dipelajari kedepannya. Cara ini menciptakan receptive apperceptive mass.
3. Menyajikan materi baru.
4. Menghubungkan korelasi materi baru dengan materi yang sudah dipelajari (sebelumnya).
5. Menunjukkan aplikasi dari materi baru dan memberikan sebuah overview dari apa yang harus dipelajari untuk selanjutnya.
Jadiii....segitu dulu deh yang kita pelajari sehari ini. Hanya satu topik sih, but it contains many things inside! Akhir-akhir mendekati berakhirnya jam, banyak teman sekelas saya yang terbuka pikirannya untuk bertanya, bahkan sudah mengaitkan dengan materi yang akan dibahas pada pertemuan berikut-berikutnya. Memang, Psikologi itu adalah ilmu yang sangat luas.
Well, semoga tulisan saya bisa membantu--walaupun hanya sedikit-- untuk menambah pemahaman kalian semua! See, ya!:D
Aku mo komen boleh ga?
BalasHapusgaboleh albi :)
Hapus